Cerpen Tema "Ulang Tahun" Tamu Tengah Malam

Selasa, 09 Februari 2021

sumber foto : pinterest.com


Moment kebersamaan pasti menjadi mpian dalam menjalankan bahtera rumah tangga. Namun, tidak semuanya dapat merasakan kebersamaan. Pernikah dijalani dengan terpisah jarak karena sebuah pekerjaan. Sungguh terasa berat melampau jalan ini. tetapi, Nahla yakin kalau ini adalah bagian dari rencana Allah. Ia hanya bisa bersabar dan ikhlas dalam melakoni ketentuan Allah dan percaya bahwa suatu saat nanti Allah akan memberikan kesempatan untuk menikmati kebersamaan yang sesungguhnya.

Hujan beserta petir membelah angkasa. Tahun ini rasanya hujan begitu dasyat. Berita di mana-mana terjadi banjir cukup memilukan hati. Nahla memangku si bungsu yang asyik mengunyah biskuit kesukaan. Sedangkan, si sulung merapatkan duduknya ketika suara petir meggelegar. Hati dan pikiran Nahla berkecamuk setiap hujan turun. Ia teringat akan suaminya yang berada jauh di sana. Seolah hujan membuat ia merasakan sendu dan khawatir. Ada sesuatu yang sering mengganjal di hati ketika hujan turun. Apalagi kalau mendapatkan kabar di kota suami juga sedang turun hujan.

“Ya, Allah. aku mohon kepadaMu untuk melindungi suamiku di sana. Dia sedang berjuang mencari nafkah untuk kami. Berkahilah dan selalu jaga dia.” Doa Nahla lirih tanpa terasa ada bulir bening turun dari matanya.

“Bunda, kenapa menangis?” pertanyaan Geya putri sulung mengagetkan.

“Bunda, teringat Ayah dan berdoa kepada Allah SWT untuk selalu menjaga Ayah. Geya juga rajin mendoakan Ayah ya.” Ucap Nahla seraya mengusap lembut rambut Geya.

“Iya, Bunda. Aku setiap selesai salat selalu mendoakan Ayah. Oh iya. Bentar lagi bunda ulang tahun kan. Kira-kira Ayah pulang tidak ya. Hemm, harus pulang dong. Bunda, minta hadiah apa sama Ayah?” kata Geya.

Nahla tersenyum. :Bunda, pingin apa ya. Heemmm, kalau Ayah pulang tentu senang jadi bisa ngumpul bareng saat Bunda ulang tahun. Tetapi, jika pekerjaan Ayah belum memungkinkan untuk izin pulang, ya tidak apa-apa. Saling mendoakan saja. Waktu ulang tahunnya tinggal sesok hari. Bunda, belum yakin kalau Ayah bisa pulang. Apalagi kemarin Ayah bilang untuk minggu ini pekerjaan sibuk sekali.” Nahla menjelaskan.

“Mungkin bisa ambil cuti, Bunda. Semoga saja Ayah bisa mengambil cuti. Aku sangat ingin pas momen ulang tahun Bunda bisa berkumpul. Setiap momen ulang tahun entah itu ulang tahunku, adek, dan Ayah, dan Bunda pasti kita jarang berkumpul untuk merayakan.” keluh Geya.

“Eh, masih bisa video call loh untuk merayakan kebersamaan. Itu namanya bersama secara virtual, sayang.” Nahla berusaha mencairkan suasana sedih Geya. Meskipun, sebenarnya hatinya juga berontak untuk meminta kebersamaan segera diwujudkan dan dikabulkan oleh Allah SWT.

“Bunda, itu beda. Pokonya tetap berbeda. Nanti aku mau video Ayah minta untuk sempatkan pulang pas Bunda Ulang tahun. Titik!.” tekad Geya seraya permisi meninggalkan Bunda untuk mandi.

Nahla, kembali merenung dan merekam perbincangan dengan Geya. Ia tahu dan paham jika Geya sangat menginginkan Ayahnya untuk pulang sama seperti dirinya. Sudah hampir satu tahun belum pulang. Apalagi kadang orang-orang dengan seenak mulut dan bikin hati larut dalam memikirkan ucapan mereka. Omongan orang-orang itu akhir-akhir ini sering membuat Nahla jadi tak bisa lelap dalam tidur. Ditambah lagi beberapa hari ini, suami tak seperti biasanya aktif menghubungi. Sekarang paling hanya siang ketika waktu istirahat. Jadi, ikut terbawa pikiran yang tidak baik padahal harusnya percaya dan yakin tidak terjadi sesuatu terhadap suaminya.

Tidak ada sapaan pagi ataupun pertanyaan perhatian yang dikirim. Whatshap tetap saja centang satu dan telepon pun tak diangkat. Pikiran Nahla sudah kacau. Akhirnya Nahla membuat status di WA, ‘ulang tahun kali ini pasti tidak bisa pulang lagi. Padahal ingin mengenang pertemuan dulu juga dengan sebatang cokelat serta es krim kesukaan’ ada emoji sedih. Setelah, membuat status ternyata suami sudah on dan pesan WA sudah dibaca tetapi tidak juga dibalas. Bosan menunggu balasan, Nahla beranjak memandikan si bungsu. Lalu, ia sendiri pun mandi dan salat.

Malam terus bergulir. Angin sepoi-sepoi mengiringi malam tanpa taburan bintang hanya terlihat awan hitam masih menggantung setia. Mungkin hujan akan kembali turun atau bisa jadi hanya cuaca berawan saja. Anak-anak sudah siap untuk menikmati hangatnya selimut dan empuknya kasur. Si bungsu meminta Nahla untuk membacakan cerita kesukaannya. Kalau Geya sudah dari tadi membaca komik kegemaran dan malah sudah tidur setelah menyelesaikan dua komik. Nahla menggendong si bungsu untuk pindah kamar. Sebelum meninggalakan kamar Geya, Nahla menyelimuti, bacakan doa, dan mengganti lampu dengan lampu tidur.

“Selamat tidur anak solehah.” Nahla mengecup kening Geya. Seperti merasa ada yang mencium membuat tubuh Geya menggeliat tanda respon sayang untuk Bundanya. Nahla pun mengusap kepala Geya penuh kasih sayang.

Giliran si bungsu yang sudah beberapa kali menguap. Nahla menidurkan sambil bersholawat setelah selesai membacakan satu cerita. Tidak berapa lama sudah terlelap memeluk boneka bebek kesayangan. Kini, Nahla sendiri dalam dekapan malam sunyi. Kembali membuka ponsel tetapi belum juga ada balasan. Di benaknya jika besok pas ulang tahun belum juga ada balasan dan kabar dari suami. Ia berencana untuk mengirim pesan banyak atas kedongkolan hati. Biar sekarang ia simpan dulu segala yang berkecamuk di dada.

Nahla belum juga mengantuk padahal jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam. Ia sandarkan tubuhnya dan terus berusaha memejamkan mata. Sewaktu Nahla mulai merasakan kantuk tiba-tiba ponselnya berdering. Nahla melihat nama sang suami yang call.

“Malam begini telepon. Ini sudah jam 12 malam lewat, seharusnya dari tadi. Habis ngapain? Sibuk.” Nahla tak tahan menahan kesal hatinya. “ Aku ngantuk, mau tidur. Kenapa pesan WA tidak dibalas. Tidak telepon.”

Sang suami masih mendengarkan kekesalan Nahla. Setelah tidak ada lagi ocean Nahla. Dia berkata, “ Tolong, bukakan pintu depan. Ini dingin di luar. Sengaja tidak memberi kabar dan balas pesan WA. Beri surprise untuk istri tercinta yang sedang ulang tahun. Selamat ulang tahun, sayang. Hadiahnya ada di depan rumah loh.”

Nahla belum sadar dan baru beberapa menit kemudian melangkahkan kaki untuk membuka pintu depan setelah sang suami menyadarkan kembali melalui telepon. Nahla, mematung melihat suaminya datang di tengah malam pas di hari ulang tahunnya. Pikiran buruk yang tadi bergelayut ternyata salah. Suaminya sekarang ada didepannya memberikan sebatang cokelat dan sekotak es krim persis seperti di status WA yang ditulisnya.

 

Cerita ini adalah fiksi yang dikutsertakan dalam lomba Blog Menulis Fiksi “Ulang Tahun”yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Semarang Gandjel Rel. Link ke  http://www.gandjelrel.com/