Puisi Untuk Bapak Ibu

Kamis, 09 Juli 2020
Kerinduan Ini

Oleh : Neti Sudiasih



Sketsa wajah berkelebat menembus pandangan mata ini

Wajah-wajah penuh perjuangan serta goresan kelelahan

Ada segumpal rindu yang membeku disudut hati

Ingin memeluk bergelayut manja pada mereka

Berbagai cerita dalam perjalanan hidup ini

Menerpa ilmu berbalut kasih sayang tak terbatas

Mereka yang rela meneteskan darah peluh demi kebahagiaan

Bapak Ibu ...

Tidak akan ada yang bisa menggantikan semua yang telah kalian berikan

Tidak akan ada yang mampu menghapuskan tali kasih ini

Kerelaan kalian membimbing meski sering aku membuat kenakalan

Namun, bapak ibu tetap menyayangi kami

Membentuk kami menjadi kuat menghadapi gejolak hidup

Kini semakin kalian menua sungguh aku ingin menemani dalam kebersamaan

Tetapi suatu keadaan menjadikan aku harus rela dan kuat berjauhan

Sesungguhnya ingin aku terus menemani disamping kalian

Perubahan kehidupan yang mesti aku jalani mengharuskan untuk mengikuti

Harapan dan doaku senantiasa tercurah untukmu, Bapak Ibu

Seperti sekarang ini, ku pendam rinduku pada kalian

aku selalu menguntaikan ayat-ayat suci agar illahi rabbi menjaga Bapak Ibu

semua kebaikan yang diberikan bapak ibu akan terus terpatri indah di sanubari ini

aku ingin melihat senyum, keceriaan, kebahagiaan dalam perjalanan hidup ini

maafkan aku yang belum mampu memberikan kebahagiaan pada Bapak Ibu

hanya rapalan doa yang terus aku panjatkan padaNya untuk bapak ibu tercinta

aku masih menunggu rindu ini entah sampai kapan akan terobati oleh pertemuan

seperti memeluk, mendekap kalian dalam mimpi-mimpiku

rinduku selalu untukmu, bapak ibu





Sebening Embun Pagi


                                                                                            Oleh: Neti Sudiasih


Bunda...

Ada tiada dirimu kan slalu ada di hatiku...



Sepenggal lirik lagu dari Mely Guslow menyentakkan sanubari

Mengalirkan darah rindu pada sosok ibu

Ibu...

Panggilan indah tuk sosok perempuan

Perempuan nan perkasa berbalut kelembutan, keanggunan

Hadirnya kerap menyejukkan jiwa dan raga

Meski terkadang tanpa sadar ada rasa menyakitinya

Namun... ibu selalu berbuat baik; memaafkan.

Kini...

Terlihat jelas tirus lelah tergurat diwajahnya

Tangannya pun  mulai keriput, otot-ototnya pun mulai menonjol

Apalagi mahkota indahnya sudah mulai terlihat memutih

Itu menandakan kelelahan sangat ditopang dipundaknya

Ibu...

Kau cahaya yang illahi pancarkan

Tuk menyinari kehidupan

Seperti keindahan embun pagi, bening menyejukkan

Dan sebagai catatan dalam beban yang berarti

Tuk menggoreskan tinta emas di surga nanti

Meski cobaan datang dan pergi... silih berganti

Ibu...

Tak pernah kudengar keluh kesah terucap dari bibirmu

Hanya untaian kalimat surga yang  kerap menghiasi

Kau bertahan dan berkorban dengan sabar diri

Hatimu bak singgasana emas di istana
Ibu...

Kau tak pernah lelah dan jauh saat anak-anakmu nakal

Kau tak goyah saat dirundung masalah

Meski sebenarnya kau sangat lelah dan bosan

Tapi... engkau tunjukkan bahwa ada satu kekuatan abadi yang bisa menopang lelahmu

Ya.. satu kekuatan dari sang maha perkasa... illahi rabbi

Yang kau percaya dan yakini bahwa hempasan badai maupun gelombang

Yang memporak-porandakan ketulusan dan keikhlasan kan pergi meninggalkan

Oh... Ibu...

Senantiasa kan ku jaga, ku ingat setiap amanah dan contoh yang kau ajarkan

Supaya aku mampu bertahan dalam hidup ini

Meskipun tak bisa sekuat yang kau contohkan

Untukmu ibu... kau perempuan pilihan Tuhan yang sangat berarti

Berarti tuk menyajikan kasih sayang tulus

Hingga waktu tanpa batas bergulir; kau tetap penuh kasih sayang

Peluk cium hangat nan lembut kan memenuhi sudut-sudut hati ini

Bagai tetesan embun di pagi hari

Senyumlah selalu ibu... senyummu hiasan dunia ini




Rindu Ayah
Oleh : Neti Sudiasih


Rindu membujur kaku di sekujur tubuh

Melekat menelan badan menjelma menjadi endapan tak tersampaikan



Aku rindu pada malaikat nun jauh di sana

Malaikat yang bisa bersikap lembut dan bisa keras

Aku memanggilnya “Ayah”



Ayah... kaulah malaikat yang ku rindu

Kerinduan ini semakin membara membakar rasa

Rindu ini sekarang terpisah jarak nan jauh sehingga melemparkan sesak



Ingin rasanya menggenggam tangan keriput yang dulu menuntunku kokoh

Ayah... rinduku terajut dalam doa yang tak pernah putus




KEKUATAN DAN HARAPAN BAPAK
Karya : Neti Sudiasih

Sebentuk senja menghadirkan siluet cantik di ujung langit

Sosok berbalut lelah memanggul cangkul, terseok-seok jalannya, memburu angin

Meninggalkan hamparan karpet hijau menguning; mengantarkan bulir-bulir emas kehidupan



Bapak ...

Ragamu mulai melepas kekuatan, menggeleparkan jiwa sayup

Mengalirkan nafas tersengal-sengal

menandakan kau semakin lelah mengukur titian panjang kehidupan

Akan tetapi, bara menganga di kalbu; memercikkan kobaran api

Kau tak memperdulikkan himpitan otot-otot mengadu; lelah

Yang ada dalam benak dan pikiranmu, anak-anakmu

Supaya dapat membungkus awan putih menjadi asa yang teraih



Bapak ...

Setiap jengkal langkahmu adalah ombak yang bekerjaran menggapai bibir pantai

Sungguh, pengorbananmu seperti bunga-bunga di musim semi

Indah terpatri pada jiwa-jiwa ini, hingga mampu menyunggi matahari

Aku, anakkmu hanya mampu menggelontorkan rangkaian doa berselimut cinta dan sayang

Menengadahkan tangan kepada Tuhan ‘tuk tetap menjagamu dalam tiap hembusan nafas ini

Dan mengharapkan tempat terindah untuk kau tempati, kelak.







LUKISAN CINTA DAN SAYANG BAPAK

Karya : Neti Sudiasih

Hilang resah menggelantung jiwa, melihat senyum merekah dan tatapan bijaksana

Kau lontarkan petuah-petuah untuk menerangi jalan terjal ini

Hadirmu mampu mengantarkanku membuka cakrawala, menaklukkan butiran-butiran debu

Sehingga pijakkanku mampu menggoncangkan bumi, membelah langit dalam harapan

Kau selalu melukiskan cinta dan sayang di relung jiwa, hingga aku mampu menggapai mimpi dan cita



Bapak ...

Dalam gelisah pun, engkau tetap terjaga menyejukkan gundah yang bergemuruh di dada ini

Kau terus saja menimangku, mengajak mecoretkan tinta emas dipekatnya dunia

Tak lelah tapak kakimu mengukur sabar, memberikan bimbingan berbalut kasih sayang

Setiap peluh yang kau teteskan, berirama dengan cinta yang kau persembahkan



Bapak ...

Sekarang langkah kakimu mulai tersendat senja, tetapi jiwamu semakin memberikan cahaya surga

Terlihat jelas raut renta berhias uban-uban, pertanda berat beban yang kau sandang

Namun, tak pernah terdengar kau mengeluh, menyampaikan gelisah

Kau terus mengembangkan sayap cinta untuk permata hatimu

Terpekur rasaku ‘tuk bermunajat kepada Tuhan

Kemuliaan pengorbananmu yang telah membentangkan pelangi di jagat hatiku



















Be First to Post Comment !
Posting Komentar

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9